Laman

konfigurasi HTML

Kamis, 03 Juni 2010

Sejarah Keratuan Lampung

SEJARAH KERATUAN LAMPUNG

1. Perpindahan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Pada dahulu kala, nenek moyang bangsa Indonesia yang berasal dari daerah Yunan (Cina Selatan) melakukan perpindahan ke Selatan, hingga sampai ke pulau Sumatera. Di pulau Sumatera mereka pertama kali tinggal di daerah sekitar Danau Toba. Pada waktu itu - menurut cerita rakyat - Danau Toba dahulunya merupakan Gunung Berapi, sampai suatu saat Gunung itu meletus dan akibatnya letusannya yang besar terbentuk lah Danau yang besar yang dinamakan danau Toba.

Akibat letusan itu sebagian rakyatnya berpindah ke berbagai penjuru diantaranya :

Ada yang masih bertahan di daerah dekat Danau Toba menurunkan Suku Batak; ada yang pergi Pantai Timur Sumatera dan melakukan pelayaran hingga terdampar di Pulau Sulawesi dan menetap disana dan menurunkan Suku Bugis dan Minahasa ; Sedangkan yang mengungsi ke Selatan menuju Gunung Dempo (Sumatera Selatan) menurunkan Suku Lampung, Malayu, Rejang dan Palembang.

2. Masa-masa Keratuan Lampung

Keratuan yang pernah berdiri di Lampung dan sekitarnya menurut masanya yaitu antara lain:

a) Masa Keratuan Gunung Dempo

Mungkin dinamakan Lamia Kepampang dalam sejarah lampung komering (dikaki Gunung Dempo). Setelah itu, sebagian anak keturunannya menyebar ke barat menurunkan suku Rejang, ke utara yaitu ke Pagaruyung menurunkan suku Malayu dan timur menurunkan suku Palembang, serta ke selatan menuju daerah Martapura dan Skala Brak (Lampung Barat) yang menurunkan suku Lampung yang masih menganut Agama Hindu atau Budha.

b) Masa Keratuan Pemanggilan dan Puncak

Keturunan keratuan dari Gunung Dempo tinggal di Martapura mendirikan Keratuan Pemanggilan dan Ke Skala Brak mendirikan Keratuan Dipuncak.

Keratuan Pemanggilan dan Palembang mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Raja terkenal adalah Bala Putra Dewa. Raja Sriwijaya bersaudara dengan Raja Ho-Ling mendirikan kerajaan Mataram Kuno yaitu dinasti Sailendra (membuat monument Candi Borobudur) di Jawa Tengah. Setelah dinasti Sailendra, dilanjutkan dengan dinasti Sanjaya yang merupakan keturunan Kerajaan Sunda-Galuh Kuno di Jawa Barat dan Kerajaan Ho-Ling di Jawa Tengah. Jadi pada saat itu kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno dan Sunda-Galuh masih ada hubungan darah, karena ada perkawinan antar bangsawan kerajaan.

Sedangkan Keratuan Dipuncak yang dalam catatan I-Tsing dikenal dengan nama To-Lo-Phwang (To: Orang dan Lo-Phwang: Lampung atau diatas bukit) atau Kendali (Kenali, Lampung Barat). Rajanya yang terkenal Sri Haridewa dan raja terakhir adalah Ratu Sekarmong (Ranji Pasai). Suku Lampung yang masih menganut agama Hindu Birawa ini dikenal dengan Buai Tumi. Kerajaan ini menjalin hubungan dengan Kerajaan Sunda-Galuh dengan pernikahan Putri Ratna Sarkati (Putri Raja Kendali Lampung) dengan Prabu Niskala Wastu Kencana (Putra Prabu Linggabuana, Raja Sunda-Galuh yang tewas di Perang Bubat). Kedatangan rombongan Putri Ratna Sarkati tersebut membawa Pisang Muli yang waktu itu hanya ada di Lampung. Sehingga pada saat ini di Jawa Barat dikenal juga dengan Pisang Muli atau Pisang Lampung. Dari pernikahan tersebut melahirkan Prabu Susuk Tunggal atau Sang Haliwungan (Raja Sunda , ayah Kentrik Manik Mayang Sunda). Sedangkan istri kedua Prabu Niskala Wastu Kencana adalah Putri dari pamannya Resi Bunisora (adik Prabu Lingga Buana) dan melahirkan Prabu Ningrat Kencana (Raja Galuh, ayah Prabu Siliwangi).

Setelah Keratuan Pemanggilan runtuh karena pusat kerajaan Sriwijaya berpindah ke daerah Palembang seiring perluasan daerah (penalukan sampai ke Asia Tenggara). Keturunannya menyebar ke selatan menuju Teluk Semaka, Pesisir Barat Krui, Teluk Lampung - atau ke Skala Brak yang masih berdiri Keratuan Puncak dan mengabdi sebagai penggawa (prajurit) disana - sehingga dikenal dengan nama Lampung Pesisir.

Sedangkan keruntuhan Kerajaan Puncak (Kendali) disebabkan oleh penaklukan 8 orang putra Umpu Nggalang Paksi dari Kerajaan Malayu Pagar Ruyung yang sudah memeluk Islam. Mereka adalah Sibejalan Diway, Sinyekhupa, Sibelunguh, Sipernong, Si gekhok, Sitambuka (Sitambakukha), Sipetar, dan Sikumbar. Buai Tumi akhirnya meninggalkan Skala Brak menuju ke daerah pesisir pantai, mungkin ke Pesisir Barat Krui, Teluk semaka atau Teluk Lampung.

Sedangkan empat putra Umpu Nggalang Paksi yang tertua menguasai daerah Skala Brak dan mendirikan Keratuan Paksi Pak yang sudah beragama Islam. Sedangkan empat putra yang lebih muda yaitu Sigekhok, Sitambuka (Sitambakukha), Sipetar, dan Sikumbar pergi ke matahari terbit. Mungkin ke Pesisir Teluk Semaka (Cukuh Balak), karena disana dikenal juga nama "Tamba Kukha" sebagai asal-usul salah satu Buai keturunan mereka (Sabatin Gedung, Makhga Putih Cukuh Balak – Baca : Sejarah Perkembangan Hukum Adat Lampung Pesisir Bandar Lima – Kecamatan Cukuh Balak).

c) Masa Keratuan Balau, Pugung dan Paksi Pak


Keratuan Puncak – yang berhubungan dengan Kerajaan Sunda-Galuh - yang telah runtuh mendirikan keratuan baru yang diberi nama Keratuan Balau yang terletak di kaki Gunung Jualang Tanjung Karang Timur. Keratuan ini masih berhubungan dengan kerajaan Sunda-Galuh baru yang dikenal nama kerajaan Padjajaran. Keratuan Balau runtuh karena terjadi perperangan yang tidak seimbang di wilayah Keratuan Balau atas campur tangan pihak Belanda.

Keratuan baru juga berdiri di Labuhan Maringgai Lampung Timur yang dikenal dengan Keratuan Pugung. Ratu Pugung mempunyai anak yang bernama Putri Sinar Alam yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati (Cucu Prabu Siliwangi dari permaisuri Subang Larang). Dari perkawinan tersebut melahirkan anak yang diberi nama Ratu Darah Putih yang kemudian hari mendirikan Keratuan Darah Putih di Kuripan, Kalianda Lampung Selatan.

Keratuan Paksi Pak Skala Brak berdiri sekitar abad ke-15 dimana terdiri dari empat kepaksian yaitu :
- Buay Bejalan Diway bertakhta kerajaan di Puncak Dalom
- Buay Nyekhupa bertakhta kerajaan di Nampak Siring
- Buay Belunguh bertakhta kerajaan di Tanjung Menang
- Buay Pernong bertakhta kerajaan di Kota Hanibung
Kepaksian Skala Brak tersebut masih ada hingga sekarang, dan sebagian keturunannya menyebar ke berbagai penjuru di Lampung.

d) Masa Keratuan Darah Putih dan Berdirinya Adat Pepadun

Keratuan Darah Putih yang didirikan oleh Ratu Darah Putih bersamaan masanya dengan pemerintahan Kesultanan Banten pertama oleh Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin (Sabangkingking) adalah kakak satu bapak lain ibu dari Ratu Darah Putih, dan keduanya putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Ibu Sultan Hasanuddin adalah Nyai Kawunganten yang merupakan cucu dari Prabu Siliwangi dari Istrinya Centrik Manik Mayang Sunda (anak Prabu Susuk Tunggal, Raja Sunda yang berdarah Lampung).
Jadi Sunan Gunung Jati dan Nyai Kawunganten merupakan sama-sama cucu dari Prabu Siliwangi yang berbeda nenek.

Dengan adanya hubungan saudara antara Ratu Darah Putih dan Sultan Hasanuddin tersebut, menjadikan Lampung dan Banten saling membantu dalam menghadapi masalah atau konflik pada masa itu. Misalnya saja pada masanya pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, Banten atas bantuan dari beberapa Kebuaian dari Lampung dapat menaklukan sisa-sisa Kerajaan Padjajaran yang masih beragama Hindu. Sehingga sisa-sisa prajurit Padjajaran yang tidak mau masuk islam mengungsi ke Banten Selatan yang kini disebut dengan Suku Badui.

Disamping berdirinya Keratuan Darah Putih di daerah pesisir Teluk Lampung, berdiri pula di daerah Lampung Bagian Tengah dan Utara kesatuan Adat Lampung yang diberi nama Adat Pepadun sekitar abad ke-17 pada zaman kesultanan Banten. Pada mulanya terdiri dari 12 kebuaian (Abung Siwo Mego dan Pubian Telu Suku), kemudian ditambah 12 kebuaian lain yaitu Mego Pak Tulang Bawang, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang (3 Buay) sehingga menjadi 24 kebuaian.

Peranan Lampung dalam perdagangan abad ke-16 sampai abad ke-18 sebagai daerah penghasil Lada, Cengkeh, Kopi dan rempah-rempah, membuat Belanda ingin menguasai Lampung setelah menggunjang-ganjingkan kesultanan Banten dengan politik adu domba. Terjadilah perlawanan masyarakat Lampung atas bangsa Belanda yang telah berkedudukan tetap di Batavia (Jakarta). Perlawanan disetiap masanya itu dipimpin oleh Ratu Imba, Raden Intan I dan Raden Intan II yang merupakan keturunan dari Ratu Darah Putih.

e) Masa Pembagian Marga Berdasarkan Teotorial-Genologis


Setelah runtuhnya Keratuan Darah Putih karena sepeninggal Radin Intan II, Lampung menjadi kekuasaan Belanda. Tetapi perlawanan rakyat lampung tidak berhenti disitu saja tetapi berlangsung sampai zaman kedatangan Jepang.
Pada masa Belanda, marga-marga Lampung yang tadinya kekuasaanya berdasarkan Geneologis-Territorial, diubah menjadi Territorial-Geneologis (Tahun 1928) yang membagi Suku Lampung menjadi 84 marga (lihat di wikipedia : Marga di Lampung).

Dari itulah, maka marga-marga di Lampung itu berdiri sendiri, dan setiap penyimbang berkuasa pada marganya yang mewakili wilayah marga (kecamatan). Sampai kedatangan Jepang Tahun 1942, kekuasaan penyimbang dihapuskan dan diganti dengan kepala Kecamatan yang membawahi beberapa desa / pekon. Akan tetapi, sampai saat ini keberadaan Penyimbang Adat pada setiap marga masih ada, tetapi tidak berkewenangan dalam pemerintahan.

Kesimpulan :
Demikianlah sejarah singkat Keratuan Lampung yang pernah berdiri di Lampung dan sekitarnya. Hal ini, perlu kita ketahui bahwa diantaranya :
- Suku satu dengan suku lainnya di Indonesia berasal dari nenek moyang yang sama, sehingga kita perlu mengerti untuk tidak membedakan suku-suku yang ada di Indonesia dengan tidak menganggap suku satu lebih beradab dan mulia dari suku yang lain.
- Keberadaan Naskah Sejarah yang berasal dari Kitab dan Cerita Rakyat terdahulu, perlu dikaji lagi lebih dalam. Karena hal tersebut menjadi bukti bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang mempunyai kebudayaan yang tinggi yang telah ada sejak dahulu kala. Karena Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu akan sejarahnya.

Sumber berasal dari beberapa naskah dan cerita yang pernah dibaca oleh Penulis. Jika ada kekeliruan atau kekurangan penulisan tempat atau nama, saya harap dapat pembaca dapat melengkapi artikel naskah "Sejarah Keratuan Lampung" ini.


"Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Mengenal Sejarahnya"


Suku komering adalah orang lampung juga

ADAT SAIBATIN LAMPUNG

ADAT SAIBATIN LAMPUNG
Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
 
 
 
 
Di-link Dari Sini
 
 
 

Web
 
 
 

Jumat, 05 Juni 2009

SUKU KOMERING ADALAH ORANG LAMPUNG JUGA

Dalam kesempatan ini, penulis menyempatkan diri untuk membuat artikel yang berjudul " Suku Komering adalah Orang Lampung Juga". Hal yang mendasari penulis membuat artikel ini adalah di karena ada pandangan dari sebagian masyarakat Komering (Sumatera Selatan) yang tidak mengaku sebagai bagian dari masyarakat Lampung. Hal tersebut perlu dikaji dengan bukti sejarah mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering, terutama ke Lampung.

Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering (dikutip dari Wacana Nusantara : Perjalanan Komering di Lampung) akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Asal-Usul Tujuh Kepuhyangan

Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri atau mengikuti dalam dialek komering lama adalah samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.

Pada artikel yang berjudul Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa - The Rise of Sriwijaya Empire (Komentar Agung Arlan), disebutkan bahwa Kepuhyangan Samandaway yang merupakan kepuhyangan tertua komering menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Sriwijaya dengan Pu Hyang Jaya Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya).

Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mereka menncari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga.

Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Skala Brak ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang dan kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.

Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi "Pemuka Peliung". Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.

Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai).

Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway).

Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Skala Brak baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan "Komering". Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati.

Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu).

2. Penyebaran Suku Komering Ke Lampung

Tak diragukan lagi, banyak orang Komering yang keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang.

Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): "Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering di tahun 1800 M pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung."

Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini mereka kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya, dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara. Mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.

Perpindahan berikutnya, dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya Minanga. Mereka menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus.

Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek moyang mereka berbaur dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis temui kebanyakan usia muda < 50 tahun). Mereka menyebut Komering yang di Palembang sebagai "nyapah" (terendam). Kemungkinan mereka juga berasal dari Minanga, karena kampong ini yang paling sering terendam air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering, Negeri Sakti) Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70) (pensiunan BPN).

Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis) walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak menutup kemungkinan dari daerah lain di Komering seperti Betung dsb, yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain.
Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan, marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering.

3. Kesimpulan

Melihat asal-usul suku Komering yang awal mula berasal dari Skala Brak lalu menyebar ke daerah dataran Way Komering dan kemudian sebagian menyebar ke Lampung, dipastikan "suku komering adalah orang Lampung juga". Dimana bahasa, huruf tulisan dan adat istiadat yang digunakan sama dengan orang Lampung.

Orang Komering melakukan perpindahan ke Lampung Tahun 1800-an, masuk ke daerah Abung Kebuayan Nunyai dan menetap disana menurunkan Lampung Sungkai (Bunga Mayang).
Kebuayan Semendaway (Kebuayan Tertua Komering) dari Minanga melakukan penyebaran ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah (Pulau Panggung), Bunglai, Cempaka - Sungkai Jaya (Lampung Utara), Sukadana (Lampung Timur dekat Negeri Tuho) dan Pagelaran (Tanggamus).

Selain itu juga mendirikan dua kampung yaitu Komering Agung/Putih (Lampung Tengah) dan Tiuh Gedung Komering - Negeri Sakti (Gedongtataan).

Pada artikel "Sejarah Keratuan Lampung" yang telah terbit sebelumnya, di daerah Komering khususnya di Martapura dulu telah berdiri Keratuan Pemanggilan. Keturunan Keratuan Pemanggilan menyebar ke daerah pesisir Barat Krui, Teluk Semaka, atau Teluk Lampung. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak dulu masyarakat Komering yang tinggal di sekitar Martapura telah melakukan perpindahan ke berbagai daerah di Lampung (Pra atau Sejaman dengan Kepaksian Pak Skala Brak Abad ke-14) sebelum Sungkai Bunga Mayang pindah ke Lampung tahun 1800-an. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa orang Komering (Tua) yang telah melakukan perpindahan ke Lampung pada Pra atau Sejaman Kepaksian Pak menurunkan Suku Lampung Pesisir Pemanggilan (Lampung Pesesekh di Cukuh Balak, Kota Agung, Talang Padang, Kedondong dan Way Lima). Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa "Suku Komering adalah Orang Lampung juga".

Bandar Lampung, 12 Mei 2009 / Oleh : JAMA'UDDIN

Apa benar "MAVI MARMARA" ingin memerangi Israel????


Saat ini, dunia sedang ramai-ramai mengecam tentara Israel yang menyerang kapal kemanusiaan Mavi Marmara. Belasan penumpang tewas. Namun, pihak Israel tampaknya tidak merasa bersalah. Mereka berdalih bahwa para tentara tersebut hanya membela diri dari "serbuan" Mavi Marmara. Apakah dalih tersebut masuk akal? Perhatikanlah gambar foto dan video "koleksi" senjata di kapal Mavi Marmara di bawah ini yang katanya dipakai untuk menyerang tentara Israel. Bukankah "senjata-senjata" seperti itu terdapat di hampir semua kapal, bukan hanya di Mavi Marmara? Lagipula, kalau berniat memerangi pasukan Israel yang bersenjata canggih, mengapa pakai pisau dapur dan peralatan rumahtangga lainnya sebagai senjata?

senjata-senjata di kapal Mavi Marmara

senjata-senjata di kapal Mavi Marmara


Universalis Tauhid Bukan Agama

Walau hampir semua orang yang berpaling ke agama adalah demi memperoleh kenyamanan dan jawaban-jawaban [yang "pasti benar"], Universalisme Tauhid (UT) justru menantang orang-orang untuk menemukan sendiri jawaban-jawabannya. Bahkan pada kesempatan yang jarang ketika menyarankan suatu jawaban, agama UT seringkali bersikeras agar orang tersebut menantang, membandingkan, dan menimbang-nimbang jawaban yang disarankan itu.

Di Amerika Serikat [dan begitu pula di Indonesia], kebanyakan agama bersifat otoritatif, bertolak belakang dengan Universalisme Tauhid (UT) yang didasarkan pada akal dan kebebasan iman individual.

Bagi kebanyakan orang, agama UT menyajikan begitu banyak kebebasan untuk memilih [sehingga dapat menjadikan kita kewalahan]; banyak orang lebih suka agar seseorang atau suatu institusi menyediakan jawaban-jawaban terhadap berbagai misteri kehidupan.

Secara kultural, sebagian besar orang Amerika bahkan tidak menyadari bahwa agama Universalisme Tauhid itu ada. Jutaan orang lulus dari sekolah menengah dan perguruan tinggi tanpa pernah mendengar atau membaca mengenai agama ini. Keadaan ini mungkin terjadi karena kebanyakan orang Amerika hanya mengakui tiga agama besar: Katolik, Protestan, Yahudi. Universalisme Tauhid, sebuah agama dengan pola-pikir yang sangat lain, bukanlah agama besar [yang penganutnya banyak sekali].

Lantaran alasan-alasan tersebut, dan juga lantaran keengganan kami untuk menarik penganut baru, kebanyakan anggota-baru komunitas UT menemukan agama UT secara kebetulan; kita penasaran bagaimana jumlah penganut agama UT bisa sebanyak sekarang ini. Bagaimanapun, buku kecil [100 Soal-Jawab] ini mungkin dapat menyediakan beberapa informasi yang berguna bagi mereka yang mempertimbangkan agama alternatif.

————

Tokoh-Tokoh Universalis Tauhid

Siapa sajakah orang-orang UT (Universalis Tauhid) yang menjadi tokoh (orang terkenal)?

Lima orang presiden Amerika Serikat merupakan orang Unitarian: John Adams, Thomas Jefferson, John Quincy Adams, Millard Fillmore dan William Taft. Walaupun tidak secara spesifik mengidentifikasi diri dengan agama apa pun, Abraham Lincoln memiliki sandaran Universalis. Berikut ini daftar orang-orang UT lainnya yang menjadi tokoh (orang terkenal) pula:

  • Horatio Alger (1832-1899), penulis buku untuk anak-anak.
  • Louisa May Alcott (1832-1888), penulis Little Women dan sejumlah buku lainnya.
  • Tom Andrews, [politisi] anggota Kongres, [kini memimpin organisasi Win Without War].
  • Susan B. Anthony (1820-1906), organisator gerakan hak-pilih wanita.
  • George Bancroft (1800-1891), pendiri U.S. Naval Academy.
  • Adin Ballou (1803-1890), kritikus mengenai kezaliman kapitalisme.
  • P.T. Barnum (1810-1891), pemilik Barnum and Bailey Circus, pendiri Tufts University.
  • Bela Bartok (1881-1945), komposer Hungaria.
  • Clara Barton (1821-1912), pendiri American Red Cross.
  • Alexander Graham Bell (1847-1922), penemu telepon; pendiri Bell Telephone Company.
  • Henry Bergh (1811-1888), pendiri American Society for the Prevention of Cruelty to Children.
  • Nathaniel Bowditch (1773-1838), ahli matematika, navigator, astronom.
  • Ray Bradbury, penulis fiksi ilmiah.
  • William Cullen Bryant (1794-1878), penulis dan editor suratkabar.
  • Charles Bulfinch (1763-1844), arsitek bangunan United States Capitol.
  • Luther Burbank (1849-1926), ahli Botani.
  • Robert Burns (1759-1796), penyair dan penulis lagu Skotlandia.
  • William Ellery Channing (1780-1842), abolisionis, pendiri Unitarianisme di Amerika.
  • William Cohen, Senator A.S. dari Maine.
  • Nathaniel Currier (1813-1888), litografer, partner James Merritt Ives.
  • E.E. Cummings (1894-1962),penyair, terkenal lantaran gaya dan tekniknya yang tidak ortodoks.
  • Charles Darwin (1809-1882), ilmuwan, evolusionis, penulis On the Origin of Species.
  • Charles Dickens (1812-1870), novelis Inggris.
  • Dorothea Dix (1802-1887), aktivis reformasi institusi penyakit jiwa.
  • Don Edwards, [politisi] anggota Kongres dari California sejak 1965.
  • Charles William Eliot (1834-1926), presiden Harvard University, editor Harvard Classics.
  • Ralph Waldo Emerson (1803-1882), pendeta Unitarian, filosof, essayis.
  • Edward Everett (1794-1865), presiden Harvard University, gubernur Massachusetts, pendeta UT.
  • Fannie Farmer (1857-1915), pakar koki (ahli memasak).
  • Benjamin Franklin (1706-1790), ilmuwan, penulis, negarawan, pencetak.
  • Margaret Fuller (1810-1850), pelopor feminisme. Tokoh utama dalam gerakan Transendentalis dan editor The Dial, bersama dengan Ralph Waldo Emerson.
  • William Lloyd Garrison (1805-1879), abolisionis, editor The Liberator.
  • Horace Greeley (1811-1872), jurnalis, politisi, editor dan pemilik New York Tribune, jawara serikat pekerja dan koperasi.
  • Edward Everett Hale (1822-1909), pendeta Unitarian dan pengarang The Man Without a Country.
  • Andrew Hallidie (1836-1900), penemu mobil berkabel.
  • Bret Harte (1836-1902), penulis, pengarang The Luck of Roaring Camp.
  • Nathaniel Hawthorne (1804-1864), novelis, penulis The Scarlet Letter.
  • John Haynes Holmes (1879-1964), ikut mendirikan American Civil Liberties Union.
  • Oliver Wendell Holmes, Jr. (1841-1935), pengacara dan anggota U.S. Supreme Court, 1902-32.
  • Julia Ward Howe (1819-1910), komposer Battle Hymn of the Republic.
  • Samuel Gridley Howe (1801-1876), pelopor pemerhati orang tuli dan orang buta.
  • Abner Kneeland (1774-1844), penganjur land reform, pendidikan publik dan pengendalian kelahiran.
  • Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882), penyair, pengarang Paul Revere's Ride.
  • James Russell Lowell (1819-1891), penyair, tokoh anti-perbudakan, dan pendeta Unitarian.
  • Horace Mann (1796-1859), pemimpin gerakan sekolah publik, pendiri sekolah publik pertama di Amerika, di Lexington, Mass., President of Antioch College, [politisi] anggota Kongres A.S..
  • John Marshall (1755-1835), Chief Justice of the United States Supreme Court.
  • Thomas Masaryk (1850-1937), presiden pertama Cekoslowakia (1920), penyokong demokrasi dan keadilan social.
  • Herman Melville (1819-1891), penulis, pengarang Moby Dick.
  • Samuel Morse (1791-1872), penemu telegraf dan Kode Morse.
  • Florence Nightingale (1820-1910), perawat Britania dan pembaharu rumahsakit.
  • Thomas Paine (1737-1809), editor dan penerbit Common Sense.
  • Theodore Parker (1810-1860), tokoh utama gerakan Abolisionis di kawasan Boston.
  • Linus Pauling, ahli kimia, pemenang Nobel Peace Prize, 1962.
  • Beatrix Potter (1866-1943), pengarang Peter Rabbit dan sejumlah cerita anak-anak lainnya.
  • Joseph Priestly (1733-1804), penemu oksigen, pendeta Unitarian.
  • Elliot Richardson, mantan Menteri Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan,
    dan Jaksa Agung (1973).
  • Paul Revere (1735-1818), pandai-perak dan pahlawan.
  • Benjamin Rush (1745-1813), penandatangan Declaration of Independence; dokter ahli jiwa, dipandang sebagai Father of American Psychiatry.
  • Carl Sandberg (1878-1967), penyair, pemenang Pulitzer Prize untuk karya biografinya mengenai Abraham Lincoln.
  • Ted Sorenson, ajudan dan penulis pidato John F. Kennedy.
  • Charles Steinmetz (1865-1923), insinyur listrik, pemegang 200 hak paten, terkenal lantaran kajian teoretisnya mengenai arus bolak-balik.
  • Adlai Stevenson (1900-1965), Gubernur Illinois, calon Presiden, Duta Besar A.S. untuk PBB.
  • George Stephenson (1781-1848), insisnyur Inggris, penemu lokomotif pertama.
  • Gilbert Charles Stuart (1755-1828), seniman, terkenal lantaran potret George Washington karyanya.
  • Sylvanus Thayer (1785-1872), insinyur, pendiri U.S. Military Academy.
  • Henry David Thoreau (1817-1862), essayis dan naturalis, pengarang Walden Pond.
  • Hendrik Wilhem Van Loon (1882-1944), ahli sejarah dan penulis.
  • Kurt Vonnegut, penulis, pengarang Slaughterhouse-Five.
  • Daniel Webster (1782-1852), orator, Senator, Menteri Luar Negeri, calon presiden A.S.
  • Josiah Wedgwood (1730-1795), pembuat barang-barang tembikar Inggris, pendiri Wedgwood Pottery.
  • Frank Lloyd Wright (1869-1959), arsitek.
  • Owen D. Young (1874-1962), Chairman of General Electric Company.
  • Whitney Young (1921-1971), ketua Urban League.
————